Legenda Pesepakbola Franco Baresi Part 2

Legenda Pesepakbola Franco Baresi Part 2

Franco Baresi membawa Milan yang  kemudian menjelma jadi klub terbaik di dunia di era itu dengan catatan tiga trofi Liga Champions, lima trofi Serie A, empat Piala Super Italia, dua piala Super Eropa, dan dua Piala Interkontinental dalam kurun waktu 1988-1994.

Baresi mengaku memang hidupnya adalah untuk Milan. Ia tumbuh sebagai penggemar Milan dan merasa beruntung ketika nasib membawanya menjadi penggawa Milan.

Loyalitas pemain kelahiran Travagliato mendapat ujian berat karena ia pernah digoda untuk pindah dari Milan. Namun Baresi tetap pada pendiriannya.

“Apakah saya pernah berpikir untuk meninggalkan Milan? Tidak! Di awal 80-an klub memiliki masalah keuangan namun saya selalu berharap bisa melewati itu dan kembali ke puncak sepak bola dunia. Kini, saya bisa berkata bahwa saya mengambil langkah tepat!”

Ketika standar penyerang terbaik di dunia ada di kaki Diego Maradona, maka bintang Argentina itu secara otomatis juga bisa menilai standar bek-bek di dunia yang pernah dihadapi olehnya. Dan Baresi, disanjung tinggi olehnya.

“Kaus ini milik bek yang fantastis. Saya rasa Franco Baresi adalah bek yang hebat, ini adalah meomri yang akan saya kenang sepanjang hidup saya,” ucap Diego Maradona saat diwawancarai ketika ia baru saja bertukar kostum dengan Baresi.

Bersama tim nasional Italia, Baresi sudah menjadi juara Piala Dunia di usia 22 tahun. Namun pada Piala Dunia 1982, Baresi hanya jadi bagian tim tanpa pernah sekalipun turun bermain.Setelah menolak panggilan bermain untuk Piala Dunia 1986 karena perbedaan pandangan soal strategi, Baresi adalah bagian penting dari tim nasional Italia pada 1990.

Di turnamen tersebut, Baresi berhasil memimpin Italia tidak kebobolan hingga laga semifinal.Namun perjalanan spektakuler Italia berakhir mengecewakan karena terhenti di babak semifinal usai kalah adu penalti lawan Argentina.

Di Piala Dunia 1994, Baresi mengalami cedera saat turnamen berlangsung namun bisa tampil penuh saat babak final. Baresi bisa menjalani tugas sebagai pemimpin lini belakang untuk menghalau serangan-serangan Brasil.

Dalam drama adu penalti, Baresi gagal melaksanakan tugasnya dengan baik, begitu juga Massaro dan Roberto Baggio. Italia akhirnya harus puas dengan raihan medali perak.

baca juga artikel berikut ini : Legenda Pesepakbola Franco Baresi Part 1

“Dalam momen seperti itu, gawang menjadi kecil dan kiper lawan menjadi besar. Awalnya, saya ingin mengarahkan ke kiri namun di detik terakhir, saya berubah pikiran. Biasanya ketika berubah pikiran, maka akan muncul kesalahan,” ucap Baresi mengenang.

Di Stadion Rose Bowl, Baresi menangis di pelukan Arrigo Sachi. Mungkin itu salah satu kesedihan yang terselip di antara kemilau perjalanan kariernya.